AGAR ILMU YANG DIDAPAT BERKAH DAN MANFAAT
Katanya, menuntut ilmu itu bukan hanya menulis, membaca dan menghafal, ada hal yang lebih penting ketimbang itu. Konon, ada hal yang lebih berperan dalam mencapai sebuah kesuksesan. Namun acap kali, kita luput padahal penting itu. Kita abai atau bahkan tidak tahu. Imam az-Zarnuji menilai bahwa banyak penuntut ilmu yang sudah bersungguh-sungguh, bersusah payah belajar, tetapi masih tidak bisa mencapai hasilnya. Mereka tak mendapatkan apa yang mereka cari. Tenaga dan waktu sudah mereka habiskan, tetapi hanya berbuah kesia-siaan, bahkan ada yang berujung pada kehinaan. Apa yang salah? Bagaimana bisa demikian? Itu karena mereka tidak menerapkan etika dan adab dalam perjalanan menjemput Ilmu. Mereka salah jalan. Dan setiap orang yang salah jalan akan tersesat. Mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, sedikit atau banyak. Syekh Syatha Dimyati al-Bakri bahkan pernah berkata bahwa kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit disbanding ilmu (meskipun) banyak.
Dalam buku syarh Ta’limul Muta’allim ini, Imam az-Zarnuji memaparkan metode belajar yang benar, menunjukkan jalan dan cara yang mesti ditempuh pencari ilmu agar tujuan tercapai, beroleh berkah dan manfaatnya. Perlu diulang-ulang, agar tujuan tercapai, beroleh BERKAH DAN MANFAAT ILMU.
Istimewanya, selain menghadirkan Syarh Ta’limul Muta’allim, buku ini juga dilengkapi Dear Beloved Son, terjemah kitab Ya Ayyuhal Walad karya Imam al-Ghazali. Sebuah kitab kecil yang berisi baris-baris petuah emas dari seorang guru untuk muridnya. Setiap petuahnya diawali dengan panggilan indah, Anakku tersayang... Ini bukti betapa hubungan guru dan murid layaknya ikatan orang tua dan anaknya. Panggilan indah itu bagai bukti betapa Sang Hujjatul Islam peduli dan sayang